
Kembalinya Sang Putri
By: Aisha Putri Sabrina
Namaku Tiara. Aku adalah seekor kucing untuk saat ini. Sebelumnya, aku seorang manusia. Aku seorang putri di Kerajaan Evermore yang ajaib dan mempesona. Orang tuaku, raja dan ratu memimpin dengan bijaksana. Rakyat merasa senang dalam menjalani kegiatan nya sehari hari. Akan tetapi di sisi lain, ada seorang penyihir yang dengki dan kejam, namanya Penyihir Draco. Dialah yang menyebabkan aku menjadi seekor kucing dan membunuh kedua orangtuaku.
Suatu hari, penyihir Draco mengunjungi istana dan menyihir seluruh pelayan menjadi seekor katak kemudian mengusir mereka semua dari Istana. Ia juga menyihir kedua orang tuaku dan membunuh mereka. Aku yang melihatnya dari kejauhan, tak dapat tinggal diam dan berusaha memberanikan diri melawannya dengan tongkat cahaya milik ibuku. Namun, sihir Draco terlalu kuat dan dia mengubahku menjadi seekor kucing. Penyihir Draco mencuri tongkat ibuku dan duduk di tahta kerajaan. Aku dibuang dan diasingkan di sebuah hutan.
Selama Draco mengambil alih pemerintahan, rakyat sering mendapatkan perlakuan kasar darinya. Mereka sering diminta melakukan kerja paksa dengan upah yang sedikit. Setiap ada rakyat yang membutuhkan bantuan atau nasihat, mereka akan di usir dan diminta untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kerajaan menjadi kocar kacir dan tidak teratur. Aku yang meratapi nasibku menjadi seekor kucing, mulai memikirkan cara untuk mematahkan mantra Draco dan memperbaiki keadaan rakyat Evermore.
Suatu sore di hutan, ketika aku sedang berjalan mencari jalan keluar, tiba tiba seekor burung terbang dan mendarat di hadapan ku. Bulunya indah dan berwarna warni. Matanya lentik dan ia terlihat anggun. Burung itu mendekatiku dan berkata,
“Kamu sepertinya tersesat. Ada yang bisa aku bantu kucing kecil?” Tanyanya. Aku pun menceritakan seluruh kejadian yang menimpaku kepadanya.
“Jadi begitu, nyonya burung. Apakah gerangan tahu bagaimana cara keluar dari hutan ini?” Tanyaku.
Burung itu tersenyum lembut dan mulai terbang sambil menunjukkan jalan kepadaku. Dia kemudian berkata, “Tenanglah Kucing kecil. Aku tahu jalan keluar dari sini. Tapi sebelumnya, kamu harus kembali lagi menjadi manusia. Menjadi Tuan Putri”
“Bagaimana caranya?” Tanyaku penasaran.
“Aku tidak tahu. Aku tidak pernah belajar sihir. Tapi aku kenal seseorang yang bisa membantumu. Namanya mama Odel. Kediamannya tidak jauh dari sini” Jawab sang burung.
Aku pun tersenyum. Secercah Harapan mulai muncul dalam diriku. “Benarkah? Maukan Nyonya Burung mengantarku kesana?” Burung itu mengangguk dan mulai terbang ke arah Utara diikuti olehku di belakangnya.
Sepanjang perjalanan, kami disambut dengan pepohonan rindang dan kicauan burung burung kecil yang merdu. Para pohon pun ikut bernyanyi riang bersama mereka.
Beberapa meter dari area itu, tanpa sengaja aku bertemu dengan seekor kelinci yang kakinya terjepit batu. Aku pun membantu membebaskannya dan mengobati kakinya. Seusai itu, sang kelinci berterima kasih dan menawarkan diri untuk membantuku.
Tanpa sepengetahuan ku, ternyata Draco telah mengawasi ku dari bola kristal ajaibnya. Ia takut aku akan berhasil, sehingga akhirnya ia mencoba menggagalkan perjalananku dengan sihirnya. Ketika aku baru sampai di dekat sungai biru, sungai yang terkenal paling jernih di kerajaan, tiba-tiba muncul dua batu raksasa yang menghadang jalan kami.
“Aduh! Bagaimana ini?” Ujar sang kelinci.
Aku pun terdiam sesaat sambil berpikir. Seketika tanah mulai berguncang dan muncul 2 orang raksasa dengan wajah mengerikan, gigi tajam, rambut acak acakan, mata berwarna merah, dan membawa kapak genggam. Raksasa itu menundukkan tubuhnya dan menatapku.
“Sedang apa kamu di wilayah ku kucing kecil” Tanya salah seorang dari kedua raksasa itu.
“Ka....kami hendak pergi ke kediaman mama Odel. Tapi kemunculan batu besar ini menghalangi kami. Apakah mungkin, kalian bersedia membantu kami? Jika iya, kami tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian” Jawabku sedikit gemetaran.
Kedua raksasa itu saling bertatapan. Setelah saling berbicara sejenak, akhirnya mereka setuju dan menghancurkan batu besar di hadapan kami dengan kapak yang mereka bawa. Akhirnya batu itu telah hancur dan kami pun bisa melewati nya dengan aman. Kami kemudian berterima kasih kepada kedua raksasa itu dan kembali melanjutkan perjalanan.
Tidak lama kemudian, akhirnya kami sampai di kediaman mama Odel. Di sana, beliau menyambut kami dengan ramah. Mama Odel sangat suka dengan hewan, itulah sebabnya ia tidak heran ketika melihat dan justru memperlakukan kami dengan baik layaknya tamu manusia.
“Baiklah. Sekarang ceritakan kenapa kalian semua kemari? Ada sesuatu?” Tanya mama Odel.
Aku ingin menceritakan segalanya. Namun, aku tidak bisa bicara dan hanya mengeong. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Wanita paruh baya berpenampilan layaknya penyihir wanita yang baik menatapku dan menungguku berbicara kepadanya.
Aku yang merasa bingung kemudian menoleh ke arah kelinci sambil berbisik, “Bagaimana ini? Mama Odel tak akan bisa memahami bahasa kucingku”
Kelinci terdiam sejenak sambil berpikir. Ia kemudian melihat sebuah pena dan selembar kertas yang tergeletak di atas meja. Dengan gesit ia mengambil nya dan memintaku untuk menulis di kertas itu.
Akan tetapi, Mama Odel langsung mengerti maksudku dan beliau langsung mengambil sebotol cairan merah muda dan meminumnya. Lalu berkata, “Nah, sekarang aku bisa berbicara dengan kalian. Bicaralah sekarang” Ucapnya.
Aku kemudian menceritakan seluruh kejadian yang ku alami kepadanya. Selesai bercerita, mama Odel membawakan ku semangkuk sup dan memintaku untuk memakannya. Setelah ku makan, aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku dan seketika aku berubah menjadi manusia kembali. Aku berterima kasih kepada mama Odel dan sebelum aku pergi, beliau membawakanku sebuah biji-bijian sambil berkata,
“Bawa ini. Aku yakin kamu akan membutuhkannya nanti. Lemparkan saja biji ini ke tanah dan kamu akan lihat. Penyihir jahat itu tidak akan bisa menyakitimu lagi” Jelas beliau.
Aku menganggukkan kepalaku dan menyimpan biji-bijian itu di saku ku. Lalu aku berterimakasih sekali lagi kepada mama Odel, nyonya burung, dan kelinci yang sudah membantuku. Seketika aku langsung mengendarai kuda milik mama Odel yang dipinjamkan kepadaku dan bergegas kembali ke Istana.
Di Istana, Draco sedang mengamati bola kristal nya dengan ekspresi marah. Ia mulai kesal ketika melihatku sudah kembali menjadi manusia dan dalam perjalanan menuju Istana. Ketika aku sampai dan menginjakkan kaki di ruangan singgasana, beberapa orang mulai terkejut. Termasuk para elf suruhan Draco.
“Putri Tiara telah kembali” Gumam mereka.
Aku kemudian berjalan mendekat ke hadapan Draco sambil berkata, “Kekejaman mu telah berakhir, Draco. Aku tidak akan membiarkanmu menindas rakyat Evermore lagi”
“Hahaha......kamu berhasil selamat Tuan Putri. Tapi tidak akan lama” Ujarnya sambil tertawa licik.
Ia kemudian mengeluarkan tongkatnya dan meramalkan mantra, namun aku berhasil menghindarinya beberapa kali. Ia akhirnya ia mulai kesal dan menggunakan tongkat Cahaya milik ibuku yang dicurinya. Ketika tongkat cahaya itu diarahkan kepadaku, salah satu pengawalnya menahanku sehingga aku tidak dapat bergerak.
Akan tetapi, dua raksasa yang kutemui di hutan tadi, tiba tiba muncul dan menghajar semua pengawal penyihir Draco. Nyonya burung dan tuan kelinci juga hadir dan membantu mengalihkan perhatian sisa pengawal lainnya, termasuk dua pengawal yang memegangiku. Setelah terbebas, aku langsung menghindar. Namun Draco tetap besi keras dan mengejarku hingga keluar istana. Penyihir itu sudah terlihat sangat marah dan hendak mengarahkan tongkat sihirnya ke arah ku. Aku kemudian teringat akan biji bijian yang diberikan mama Odel kepadaku. Aku langsung mengeluarkannya dari saku ku dan melemparnya ke tanah.
Seketika tanah menjadi terbuka dan terciptalah sebuah lubang yang besar. Karena tidak fokus melihat jalan, penyihir Draco terpeleset dan jatuh ke dalamnya. Tak lama setelah itu, lubang itu kembali menutup dan berubah menjadi tanah biasa seperti sedia kala. Aku kemudian mengambil tongkat cahaya milik ibuku dan kembali ke Istana. Di sana rakyat sudah menanti dengan perasaan gembira. Kini Evermore telah terbebas dari penyihir jahat dan rakyat telah terlepas dari penindasan keji Draco.
Beberapa bulan kemudian, aku dinobatkan menjadi seorang ratu. Aku sangat bahagia dan merasa terhormat menempati tahta orangtuaku. Sejak saat itu, aku memimpin dan melindungi rakyat kerajaan Evermore. Aku selalu membantu mereka dan memiliki visi untuk memajukan Evermore. Aku juga tak akan melupakan teman teman yang sudah membantuku ketika aku menjadi kucing. Nyonya burung dan tuan kelinci juga sering mengunjungi ku di Istana. Aku juga selalu menyempatkan waktu di hari Minggu, untuk bertamu di rumah dua raksasa itu. Aku bersumpah pada diriku dan rakyat Evermore, bahwa aku akan menjadi ratu yang adil dan bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi di kerajaan.
-THE END-
Keterangan :
Cerpen ini dinobatkan sebagai Karya Juara Pertama Lomba Literasi Bulan Bahasa 2025, yang diselenggarakan oleh MAN 1 Boyolali Tahun Ajaran 2025 - 2026